Sabtu, 04 Juni 2011

Analisis Drama Hamlet dengan pendekatan Objektif

MAKALAH KAJIAN DRAMA
ANALISIS DRAMA ”HAMLET KARYA WILLIAM SHAKESPEARE” DENGAN PENDEKATAN OBJEKTIF
D
I
S
U
S
U
N
OLEH

RAHEL SILALAHI
209111053
DIK REGULER B 2009






















JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2011

BAB I
PENDAHULUAN
A. Pengertian drama
Kata drama berasal dari bahasa Yunani yang berarti action dalam bahasa Inggeris, dan gerak dalam bahasa Indonesia.dapat diartikan drama sebagai bentuk seni action, percakapan atau dialog.
Menurut Ferdinan Brunetiere dan Balthazar Verhagen, drama adalah kesenian yang melukiskan sifat dan sikap manusia dan harus melahirkan kehendak manusia dengan action dan perilaku. Sedangkan menurut Moulton, darama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak, drama adalah menyaksikan kehidupan manusia yang diekspresikan secara langsung.
Drama dapat didefenisikan sebagai berikut:
• Drama berarti perbuatan, tindakan. BerasaldaribahasaYunani “draomai" yang berartiberbuat, berlaku, bertindakdansebagainya.
• Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak.
• Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama.

B. Bentuk Drama
a. Drama Tradisional
Drama tradisional hidup dalam pelbagai daerahsebagai salah satu bentuk kebudayaan daerah. Drama sering disebut dengan “teater rakyat” karena lahir dari kreativitas turun temurun kelompok masyarakat tertentu. Drama tradisional melakonkan yang bersifat local, digali dari kehidupan masyarakat setempat bahan dari cerita sejarah klasik.
Ciri-ciri drama tradisional adalah:
1. Tidak memakai naskah karena mayoritas pelaku telah hapal dengan cerita.
2. Lebih mengutamakan jalan cerita, dialog seluruhnya diserahkan kepada kreativitas pemain.
3. Gerak-gerik cenderung berupa tarian.
4. Cerita bersumber dari cerita rakyat atau cerita asing yang klasik.
5. Tata arias dan busana bersifat spesifik.
6. Musik yang dipakai adalah musik tradisional-lokal.
7. Sutradara berperan sebagai pangatur cerita.

b. Drama Modern
Drama modern merupakan perkembangan drama selanjutnya yang muli memakai naskah.
Cirri-ciri drama modern adalah:
1. Memakai naskah, dialog-dialog para pelaku telah diatur sepenuhnya dalam naskah drama.
2. di samping jalan cerita, drama modern amat mementingkan unsure literature.
3. cerita bersumber dari kehidupan manusia.
4. gerak-gerik dari tiruan manusia.
5. Tata arias dan busana berfungsi memperjelas watak.
6. Menggunakan musik modern.

Dalam makalah ini, penulis menggunakan pendekatan objektif sebagai pendekatan dalam menganalisis Hamlet. Pendekatan objektif merupakan sebuah pendekatan yang menekankan karya sastra sebagai struktur yang sedikit banyak bersifat otonom (Teeuw, 2003: 100). Pendekatan ini mencoba untuk memaparkan suatu karya sastra secara struktural. Dalam makalah ini, penulis mencoba menganalisis drama Hamlet sebagai suatu karya yang mempunyai otonomi penuh. Oleh karena itu, penulis tidak mengaitkan karya dengan lingkungannya, seperti pengarang dan pembacanya. Penulis hanya membahas sistem formalnya yang membangun keutuhan karya, yaitu alur, latar, tokoh dan penokohan, tema, dan amanat.










BAB II
PEMBAHASAN

A. Pendekatan Objektif
Pendekatan Objektif merupakan suatu pendekatan yang hanya menyelidiki karya sastra itu sendiri tanpa menghubungkan dengan hal-hal di luar karya sastra.
Hakikat karya sastra adalah perpaduan antara hasil imajinasi seorang sastrawan dengan kehidupan secara faktual. Hasil rekaan manusia itu lebih tinggi nilainya dari kenyataan, karena sastrawan tidak begitu saja meniru atau meneladani kenyataan. Oleh karena itu, dalam memahami karya sastra hendaknya pembaca mengenal berbagai macam teori, yang salah satunya berupa teori objektif yang akan kita bahas di bawah ini.
Ciri-ciri yang terdapat dalam teori objektif adalah:
1. Teori objektif memandang karya sastra sebagai sesuatu yang berdiri sendiri.
2. Menghubungkan konsep-konsep kebahasaan (linguistik) dalam mengkaji suatu karya sastra.
3. Pendekatan yang dilihat dari eksistensi sastra itu sendiri berdasarkan konvensi sastra yang berlaku.
4. Penilaian yang diberikan dilihat dari sejauh mana kekuatan atau nilai karya sastra tersebut berdasarkan kaharmonisan semua unsur-unsur pembentuknya.
5. Struktur tidak hanya hadir melalui kata dan bahasa, melainkan dapat dikaji berdasarkan unsur-unsur pembentuknya seperti tema, plot, karakter, setting, point of view.
6. Untuk mengetahui keseluruhan makna dalam karya sastra, maka unsur-unsur pembentuknya harus dihubungkan satu sama lain.

Pendekatan objektif dengan demikian memusatkan per-hatian semata-mata pada unsur-unsur, yang dikenal dengan analisis intrinsik. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik, seperti aspek historis, sosiologis, politis, dan unsur-unsur sosiokul-tural lainnya, termasuk biografi. Oleh karena
itulah, pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi, analisisergocen-t r i c , pembacaan mikroskopi. Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dalam dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak, dan unsur-unsur dengan- totalitas di pihak yang lain.
Masuknya pendekatan objektif ke Indonesia sekitar tahun 1960-an, yaitu dengan diperkenalkannya teori strukturalisme, memberikan hasil-hasil yang baru sekaligus maksimal dalam rangka memahami karya sastra. Pendekatan objektif diaplikasikan ke dalam berbagai bidang ilmu dan dunia kehidupan manusia, termasuk mode pakaian dan menu makanan. Pendekatan yang dimaksudkan jelas membawa manusia pada. Penenuan-penemuan bam, yang pada gilirannya akan memberikan masukan terhadap perkembangan strukturalisme itu sendiri.
Dengan adanya penolakan terhadap unsur-unsur yang ada di luarnya, niaka
masalah mendasar yang harus dipecah-kan dalam pendekatan objektif harus dicari dalam
karya ter-sebut, seperti citra bahasa, stilistika, dan aspek-aspek lain yang berfungsi untuk
menimbulkan kualitas estetis. Dalam | fiksi, misalnya, yang dicari adalah unsur-unsur lot, tokoh, latar, kejadian, sudut pandang, dan sebagainya. Melalui pendekatan objektif, unsur-unsur intrinsik karya akan dieksploi-tasi semaksimal mungkin.
Penilaian objektif berarti menilai suatu karya sastra secara objektif, tidak dengan pendapat pribadi (subjektif). Kriteria utama dalam memberikan penilaian secara objektif itu, menurut Graham Hough dan Wellek Warren adalah pada adanya :
1. Relevansi nilai-nilai eksistensi manusia yang terpapar melalui jalan seni, imajinasi maupun rekaan yang keseluruhannya memiliki kasatuan yang utuh, selaras, serta padu dalam pencapaian tujuan tertentu atau memiliki integritas, harmony, dan unity.
2. Daya ungkap, keluasan, serta daya pukau yang disajikan lewat texture serta penataan unsur-unsur kebahasaan maupun struktur verbalnya atau pada adanya consonantia dan klantas.
B. Langkah Kerja
1). Prinsip Umum Pendekatan Objektif
• Penganalisisan hanya bertumpu pada teks drama semata dan lepas dari unsure-unsur luar yang mempunyai andil penciptaan sebelumnya.
• Karya fiksi si bangun oleh beberapa unsure, seperti gaya bahasa, sudut pandang, alur, penokohan, dan latar.
• Penganalisisan drama sebagai genre sastra adalah dengan membongkar unsure subunsur yang sekecil-kecilnya, untuk disusun kembali logikarasional.
• Keseluruhan dan kebutuhan drama dipreteli menjadi unsure-unsur tetapi tidak dibiarkan terpisah dan terlepas.
• Antar unsure makna bahasa dengan unsure penunjang struktur bahasa, tidak dapt dilihat sebagai unsure-unsuir yang berdiri sendiri.
• Penginterpretasian dilakukan bertahap-tahap sesuai dengan hubungan unsure-unsur yang sederajat dan setingkat.
2). Prinsip Terapan Pendekatan Objektif
Beberapa prinsip dalam telaah unsure penokohan drama adalah sebagai berikut:
1. Pemahaman tokoh atau gelar salah satu bagian yang perlu dijadikan dsar untuk memahami penokohan dan perwatakan.
2. Penokohan tidak sama dengan perwatakan.
3. Jarang tokoh memerankan peran tunggal, dan pada umumnya setiap tokoh mempunyai beberapa peran yang sangat bergantung pada interaksi social yang dilkaukannya.
4. Setiap peran membawa misi permasalahan dan konflik drama.
5. Setiap peran selalu hadir berpasangan dengan peran lain dalam membentuk suatu permasalahan.
6. Setiap tokoh dapat dibedakan atas tiga keadaan yaitu keadaan fisik, psikis dan social.
7. Antara keadaan fisik, psikis dan social haruslah terdapat keserasian dan saling menunjang dalam membangun permasalahan dan konflik.
8. Unsur penokohan tidak berdiri sendiri tetapi ia saling berhubungan dengan unsure lain.
Beberapa prinsip dalam penganalisisan latar dan ruang drama adalah sebagai berikut:
1. Latar mencakup informasi tentang suasana, tempat tampak dn waktu.
2. Fungsi latar adalah memperjelas unsure penokohan dan alur.
3. pelukisan latar dan ruang dalam drama dapat saja sama dengan realitas objektif.
4. Latar dan ruang drama dapat saja berbentuk abstrak.
5. Unsur latar dan ruang terkait langsung dengan unsure penokohan, peristiwa dan motif juga cenderung bersifat abstrak.
Beberapa prinsip dalam penganalisisan gaya bahasa adalah sebagai berikut:
1. Penggarapan bahasa atau gaya bahasa drama merupakan cara yang sebaik-baiknya untuk menyampaikan informasi penokohan, peristiwa, dan motif, latar, ruang dengan memanfaatkan kelebihan dan kekurangan bahasa tulisan sebagai medium teks drama.
2. Perbedaan watak tokoh akibat tuntutan peran tokoh yang berbeda, harus dibedakan oleh gaya bahasa.
C. Sinopsis Naskah Drama
Hamlet adalah seorang pangeran di negara Denmark.Ayahnya baru meninggal dan pamannya Claudius naik tahta.Selain itu pamannya juga menikahi ibu Hamlet, Gertrude.Hal ini membuat Hamlet merasa sangat sedih. Pada saat yang sama, beberapa teman Hamlet melihat hantu yang mengaku dirinya ayah Hamlet. Ketika Hamlet juga melihat hantu ini, ia disuruh untuk membalas dendam karena Claudius telah membunuhnya. Hamlet pura-pura gila untuk menjebak Claudius. Selain itu, Hamlet juga mengundang beberapa aktor untuk mementaskan cerita yang ia tulis sendiri. Ceritanya adalah tentang seseorang yang membunuh raja dengan cara menuangkan racun di lubang telinganya. Waktu cerita ini dipentaskan, Claudius menjadi merasa sangat bersalah dan pergi sebelum pertunjukkan berakhir.
Hamlet bertanya kepada Gertrude mengenai kematian ayahnya. Ketika Gertrude tidak mau mengaku, Hamlet menjadi marah dan waktu melihat seseorang sedang bersembunyi di belakang tirai ia menusuknya. Tak disangka ini adalah Polonius, penasehat Claudius.Polonius meninggal dan kedua anaknya Laertes dan Ophelia berkabung. Ophelia sebenarnya telah jatuh cinta pada Hamlet, namun karena hal ini ia menjadi gila dan tenggelam di sungai.
Setelah ini, Claudius mengirim Hamlet ke Inggris untuk belajar di sana, walaupun tujuan sebenarnya adalah untuk mengusir Hamlet dari Denmark. Ia dan sahabat karibnya Horatio kemudian kabur dari kapal yang membawanya ke Inggris dan kembali ke Denmark. Di sana Hamlet tidak sengaja melihat prosesi pemakaman Ophelia dan karena sedihnya ia loncat masuk ke dalam liang kubur Ophelia. Laertes yang melihat hal ini menjadi marah dan ingin membalas kematian ayahnya.Ia pun menantang Hamlet untuk duel pedang.
Sebelum duel, pedang Laertes telah diberi racun oleh Claudius.Selain itu anggur Hamlet pun diracun.Pada kedua putaran pertama, Hamlet menang melawan Laertes dan Gertrude meminum anggur Hamlet untuk memberi semangat.Di putaran selanjutnya Hamlet terluka dengan pedang Laertes. Namun ia kemudian bertukar pedang dan berhasil melukai Laertes juga. Sebelum mati karena racun, Laertes mengaku telah bersekongkol dengan Claudius.Hamlet pun membunuh Claudius. Akhirnya baik Gertrude maupun Hamlet sendiri juga tewas karena racun yang sama.
D. Analisis
• Tema
Seorang raja yang meninggal dengan misterius, lalu jandanya menikah dengan saudaranya.
• Amanat
Hendaknya kita tidak melakukan suatu perbuatan yang curang dan jahat sehingga merugikan orang lain.
• Latar
Latar Waktu: Ratusan tahun yang lalu.
Latar Tempat: Denmark.
• Alur
Alur drama ini adalah alur maju atau linear yang berlangsung secara kontinyu dan memuncak.
• Tokoh
Hamlet, Pangeran dari Denmark
Raja Claudius, paman Hamlet
Ratu Gertrude, ibu Hamlet
Horatio, teman Hamlet
Polonius, penasihat utama raja
Ophelia, putri Polonius
Laertes, putra Polonius









BAB III
PENUTUP
Hamlet adalah sandiwara tragedi karya William Shakespeare yang ditulis sekitar tahun 1599-1601.Drama ini adalah salah satu tragedi Shakespeare yang terkenal.Terjemahan ke dalam bahasa Indonesianya berjudul Hamlet, Pangeran Denmark dan dilakukan oleh Trisno Sumardjo.
Tragedi ini menceritakan tentang seorang raja yang meninggal dengan misterius, jandanya lalu menikah dengan saudaranya. Arwah sang raja menghantui istana kerajaan. Ia ingin anaknya, Hamlet, untuk membalas dendam. Pangeran Hamlet yang berjiwa sensitif bersumpah untuk membalas dendam dengan segala cara yang akhirnya harus dibayar dengan mahal.
Setelah menganalisis Hamlet dengan pendekatan objektif, penulis menemukan bahwa tema drama ini adalah Seorang raja yang meninggal dengan misterius, lalu jandanya menikah dengan saudaranya.Alur drama ini adalah alur maju atau linear yang berlangsung secara kontinyu dan memuncak. Amanat Hamlet adalah kita harus dapat menghargai orang lain, kesetiaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar