Senin, 23 Mei 2011

analisis kohesi dan koherensi koran kompas


Makalah
ANALISIS KOHESI DAN KOHERENSI TAJUK RENCANA HARIAN KOMPAS

Disusun untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah
Wacana Bahasa Indonesia
dari Suprakisno, S.Pd, M.Pd

Oleh,
RAHEL SILALAHI
209111053
DIK REGULER B 2009
 











JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2010
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis penjatkan kehadirat TYME, atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul analisis kohesi dan koherensi tajuk rencana harian kompas.
Diawali dari pencarian objek kajian lewat beberapa literatur dan blog-blog yang berkaitan dengan makalah ini, sampai proses pengetikan hingga sampai penyelesaiannya dan akhirnya sampai terwujud sebagaimana adanya. Banyak elemen, orang, kelompok yang memberikan bantuan kepada penulis, sehingga sepantasnyalah penulis mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis dengan ikhlas.
Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
 Harapan penulis mudah-mudahan makalah yang sangat jauh dari kata sempurna ini dapat bermanfaat dan menambah khazanah keilmuan pada mata kuliah wacana Bahasa Indonesia serta menambah wawasan pembaca mengenai struktur penelitian dan penulisan ilmiah.






Medan, Desember  2010


Penulis





BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
Wacana merupakan unsur kebahasaan yang relatif paling kompleks dan paling lengkap. Satuan pendukung meliputi fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, hingga karangan utuh. Namun, wacana pada dasarnya juga merupakan unsur bahasa yang bersifat pragmatis. Oleh karena itu, kajian wacana menjadi sangat penting dalam proses pembelajaran bahasa. Unsur yang sangat lengkap dan kompleks tersebut mencakup kohesi dan koherensi. Analisis kohesi dan koherensi ini disusun karena mengingat kohesi pada dasarnya bertujuan untuk mendapatkan efek intensitas makna bahasa, kejelasan informasi, dan keindahan bahasa. Pada kondisi tertentu, unsur-unsur kohesi menjadi kontributor penting bagi terbentuknya wacana yang koheren, sedangkan pemakaian koherensi antara lain adalah bertujuan agar tercipta susunan dan struktur wacana yang memiliki sifat serasi runtut, dan logis karena suatu rangkaian kalimat yang tidak memiliki hubungan bentuk dan makna secara logis, tidak dapat dikatakan sebagai wacana, sehingga penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk kohesi dan koherensi yang terdapat dalam wacana Tajuk Rencana.
Selain kohesi, koherensi juga diperlukan agar terbentuk wacana yang utuh. Keutuhan yang koheren tersebut dijabarkan oleh adanya hubungan-hubungan makna yang terjadi antar unsur (bagian) secara semantis.
Analisis wacana meruakan studi tentang struktur pesan dalam komunikasi atau telaah melalui aneka fungsi bahasa. Analisis wacana lahirdari kesadaran bahwa ersoalan yang terdapat dalam komunikasi bukan terbatasada penggunaan kalimat atau bagian kalimat, fungsi ucapan, tetapi juga mencakupstruktur pesang yang lebih kompleks dan inheren yang disebut wacana. Dalam analisis wacana kritis, wacana tidak hanya dipahami sebagai studi bahasa. Bahasa dianalisis tidak hanya asek kebahasaan saja, tetapi juga menghubungkannya dengan konteks.
Penelitian sebelumnya mengenai analisis tajuk rencana yang diambil penulis sebagai bahan pertimbangan dan sebagai tambahan bagi penulis untuk mempermudah kinerja menganalisis tajuk rencana. Analisis tajuk rencana yang disimpulkan oleh si penganalisis. Kelebihan yang didapatkan oleh si penganalisis yaitu tajuk rencana lebih dominan mengulas masalah politik dan pemerintahan. Kelemahannya yaitu yang menjadi kesimpulan si penganalisis yaitu cenderung bersikap unfavorable yang maksudnya tidak setuju terhadap realitas-realitas yang terjadi di masyarakat yang hanya membahas politik dan pemerintahan.
Peneliti melakukan analisis pada tajuk rencana untuk melihat isi atau yang dipaparkan dalam tajuk rencana harian Kompas selama tiga hari. Sehingga mendapat gambaran mengenai kelebihan dan kekurangan tajuk rencana yang ada pada harian Kompas.
Tajuk rencana atau editorial adalah opini berisi pendapat dan sikap resmi suatu media sebagai institusi penerbitan terhadap persoalan aktual, fenomenal, atau kontroversial yang berkembang di masyarakat. Opini yang ditulis pihak redaksi diasumsikan mewakili redaksi sekaligus mencerminkan pendapat dan sikap resmi media yang bersangkutan.

  1. Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini, aspek koherensi dan koherensinya dibatasi agar permasalahanya lebih fokus. maka masalah ini dibatasi pada kohesi aspek gramatikal yang meliputi pengacuan (referensi) dan perangkaian (konjungsi) dan aspek leksikal meliputi Repetisi . Sedangkan koherensinya dibatasi pada hubungan makna yang meliputi amplikatif, kausalitas, dan penambahan.

  1. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana penggunaan aspek kohesi yang meliputi pengacuan (referensi), Perangkaian ( konjungsi) repetisi (perulangan) dalam wacana cerpen harian kompas?
2. Bagaimanakah penggunaan aspek koherensi yang meliputi hubungan amplikatif, kausalitas dan penambahan dalam wacana tajuk rencana harian kompas?
3. Bagaimana keterkaitan aspek kohesi dan koherensi dalam wacana tajuk rencana harian kompas?
D. Tujuan Penelitian
            Adapun tujuan penelitian ini adalah:
1.      Pembaca mengetahui penggunaan aspek kohesi pada sebuah wacana.
2.      Pembaca mengtahui penggunaa aspek keherensi pada sebuah wacana.
3.      Pembaca mengetahui keterkaitan antara kohesi dan koherensi pada sebuah wacana.
E.Mnfaat Penelitian
1.      Manfaat Praktis
Penulis mengharapkan agar penelitian ini dapat mendorong penelitian analisis wacana dalam segala aspek, baik gramatikal maupun leksikal. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan pengertian wacana secara lebih mendalam dan dapat memberikan makna yang lebih menyeluruh mengenai analisis wacana yang diteliti.
2.      Manfaat Teoritis
      Penelitian ini juga bermanfaat untuk memberikan penjelasan secara teoritis yang berkaitan dengan masalah penelitian. Teori-teori tersebut dijadikan sebagai landasan atau titik acuan bagi penjelasan masalah penelitian. Maka sangat perlulah penjelasan teori-teori tersebut untuk menambah pengetahuan dan pemahaman pembaca tentang kohesi dan koherensi suatu wacana.










BAB II
KAJIAN TEORI
A.    Pengertian Wacana
            Wacana sebagai dasar dalam pemahaman teks sangat diperlukan masyarakat dalam berkomunikasi dengan informasi secara utuh. Wacana yang baik harus memperhatikan isi (informasi) yang koheren dan keruntutan unsur pendukung (kohesi).
            Wacana berasal dari bahasa Inggris  discourse, yang artinya antara lain ”Kemampuan untuk maju menurut urutan-urutan yang teratur dan semestinya.” Pengertian lain, yaitu ”Komunikasi buah pikiran, baik lisan maupun tulisan, yang resmi dan teratur.” Jadi, wacana dapat diartikan adalah sebuah tulisan yang teratur menurut urut-urutan yang semestinya atau logis. Dalam wacana setiap unsurnya harus memiliki kesatuan dan kepaduan.
            Setiap wacana memiliki tema untuk diuraikan atau diceritakan dalam wacana. Tema berfungsi sebagai pengikat agar isi wacana teratur, terarah dan tidak menyimpang kesana-kemari. Sebelum menulis wacana, seseorang harus terlebih dahulu menentukan tema, setelah itu baru tujuan. Tujuan ini berkaitan dengan bentuk atau model isi wacana. Tema wacana akan diungkapkan dalam corak atau jenis tulisan seperti apa itu bergantung pada tujuan dan keinginan si penulis. Setelah menetapkan tujuan, penulis akan membuat kerangka karangan yang terdiri atas topik-topik yang merupakan penjabaran dari tema.
            Topik-topik itu disusun secara sistematis. Hal itu dibuat sebagai pedoman agar karangan dapat terarah dengan memperlihatkan pembagian unsur-unsur karangan yang berkaitan dengan tema. Dengan itu, penulis dapat mengadakan berbagai perubahan susunan menuju ke pola yang sempurna.
            J.S. Badudu (2000) memaparkan wacana sebagai rentetan kalimat yang berkaitan dengan, yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lainnya, membentuk satu kesatuan, sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat-kalimat itu.  Selanjutnya dijelaskan pula bahwa wacana merupakan kesatuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang tinggi yang berkesinambungan,yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata,disampaikan secara lisan dan tertulis.
            Wacana yang padu adalah wacana yang apabila dilihat dari segi hubungan bentuk atau strukturnya bersifat kohesif dan dilihat dari struktur maknanya bersifat koheren. Kita ketahui bahwa sebuah wacana itu dapat berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan maksud penulis kepada pembaca. Apabila suatu wacana tidak memperhatikan aspek kebahasaan yang baik dan tidak memperhatikan kohesi dan koherensinya maka wacana tersebut tidak padu dan tidak menarik, sehingga informasi yang disampaikan oleh penulis tidak akan sampai kepada pembacanya.
B. Jenis-jenis Wacana
2.2.1. Berdasarkan media penyampaian: wacana lisan dan tulisan
1        Wacana lisan dihasilkan secara lisan yang melibatkan komunikasi langsung antara penutur dengan pendengar. Dalam wacana lisan, ekspresi wajah, nada suara, gerak badan dan sebagainya berfungsi untuk menyampaikan sesuatu perkara kepada pendengar.
Contohnya ialah perbualan harian, temu ramah, ceramah, ucapan, khutbah, siaran televisyen dan radio.
2        Wacana tulisan pula ialah wacana yang disampaikan secara bertulis yang melibatkan hubungan antara penulis dengan pembaca. Komunikasi yang berlaku ialah komunikasi satu arah atau tidak langsung. Penulis tidak mendapat reaksi pembaca pada masa itu kerana penulis tidak berdepan dengan pembaca.
Contoh wacana tulisan ialah rencana, akhbar, majalah, buku dan novel.
2.2.2. Berdasarkan pengungkapan: wacana langsung dan tidak langsung
2.2.3. Berdasarkan bentuk : wacana prosa, puisi dan dramai


     Leech mengklasifikasikan wacana berdasarkan fungsi bahasa seperti dijelaskan berikut ini;
1.   Wacana ekspresif, apabila wacana itu bersumber pada gagasan penutur atau penulis sebagai sarana ekspresi, seperti wacana pidato;
2.   Wacana fatis, apabila wacana itu bersumber pada saluran untuk memperlancar komunikasi, seperti wacana perkenalan pada pesta;
3.   Wacana informasional, apabila wacana itu bersumber pada pesan atau informasi, seperti wacana berita dalam media massa;
4.   Wacana estetik, apabila wacana itu bersumber pada pesan dengan tekanan keindahan pesan, seperti wacana puisi dan lagu;
5.   Wacana direktif, apabila wacana itu diarahkan pada tindakan atau reaksi dari mitra tutur atau pembaca, seperti wacana khotbah.
C. Kepaduan Wacana
1.      Kohesi (Cohession)
1.1.   Pengertian Kohesi
            Kohesi merupakan aspek formal bahasa dalam wacana. Dengan itu kohesi adalah 'organisasi sintaktik. Organisasi sintaktik ini adalah merupakan wadah ayat-ayat yang disusun secara padu dan juga padat. Dengan susunan demikian organisasi tersebut adalah untuk menghasilkan tuturan. Ini bermaksud bahawa kohesi adalah hubungan di antara ayat di dalam sebuah wacana, baik dari segi tingkat gramatikal maupun dari segi tingkat leksikal tertentu. Dengan penguasaan dan juga pengetahuan kohesi yang baik, seorang penulis akan dapat menghasilkan wacana yang baik.
1.2.   jenis-jenis Kohesi
a.      Kohesi Gramatikal
Kohesi gramatikal adalah kepaduan bentuk bagian-bagian wacana yang      diwujudkan ke dalam sistem gramatikal.
            Secara lebih rinci, aspek gramatikal wacana meliputi:
1        Pengacuan ( Refrensi )
Pengacuan atau referensi adalah salah satu jenis kohesi gramatik yang merupakan satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain yang mendahului atau mengikutinya. Berdasarkan tempatnya, apakah acuan itu berada di dalam teks atau di luar teks, maka pengacuan dibedakan menjadi dua jenis yakni (1)  pengacuan endofora, apabila acuannya berada atau terdapat dalam teks wacana itu, (2) pengacuan eksofora, apabila acuannya berada atau terdapa di luar teks.
2        Subtitusi
            Subtitusi adalah hasil penggantian unsure bahasa oleh unsure lain dalam satuan yang lebih besar untuk memperoleh  unsure-unsur pembeda atau untuk menjelaskan suatu struktur tertentu. Subtitusi merupakan hubungan  gramatikal, lebih bersifat hubungan kata dan makna. Subtitusi dalam bahasa Indonesia dapat bersifat nominal, verbal, klausal, atau campuran.
3        Elipsis
            Elipsis adalah peniaadaan kata atau satuan lain yang ujud asalanya dapat diramalkan dari konteks bahasa atau luar bahasa. Ellipsis dapat pula dikatakan penggantian nol ; sesuatu yang ada tetapi tidak diucapakan atau tidak dituliskan.
4        Konjungsi
            Konjungsi adalah yang dipergunakan untuk menggabungkan kata dengan kata, frasa dengan frasa, kalusa dengan klausa, kalimat denagn kalimat, atau peragraf dengan paragraph.
Konjungsi dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan atas :
a)      konjungsi adversative : tetapi, namun
b)      konjungsi kausal : sebab, karena
c)      konjungsi korelatif : entah/entah, baik/maupun
d)     konjunsi subordinatif : meskipun, kalau, bahwa
e)      konjungsi temporal : sebelum, sesudah


                  b. Kohesi Leksikal

                        Kohesi leksikal adalah hubungan antar  unsure dalam wacana secara                        semantik. Hubungan  kohesif yang diciptakan atas dasar aspek leksikal, denga                        pilihan kata yang serasi, menyatakan hubungan makna atau relasi semantic                 antara satuan lingual yang satu dengan satuan lingual yang lain dalam wacana.                     Aspek leksikal dalam wacana dibedakan menjadi enam yakni :
1        Repetisi
repetisi adalah pengulangan satuan lingual yang dianggap 
penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang  sesuai.
2        Sinomini
Sinomini dapat diartikan sebagai nama lain untuk benda atau hal yang sama atau ungkapan yang makna nya kurang lebih sama dengan ungkapan lain. Sinomini merupakan salah satu aspek leksikal untuk mendukung kepaduan wacana.
3        Antonimi
Antonimi dapat diartikan sebagai nama lain untuk benda atau hal yang lain, satuan lingual yang maknanya berlawan/berposisi dengan satuan lingual yang lain.
4        Kolokasi
Kolokasi atau sanding kata adalah asosiasi dalam menggunakan pilihan  kata yang cenderung digunakan secara berdampingan.
5        Hiponimi
Hiponimi dapat diartikan sebagai satuan bahasa yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna satuan lingual yang lain.
6        Ekuivalen ( kesepadanan)
Ekuivalen adalah hubungan  kesepadanan antara satuan lingual tertentu dengan satuan lingual yang lain dalam sebuah paradigma. Dalam hal ini, sejumlah kata hasil proses afisasi dari morfem asal yang sama menunjuk adanya hubungan kesepadanan.
2.      Koherensi
2.1 Pengertian Koherensi

Dalam sebuah kamus besar dapat dibaca keterangan mengenai koherensi sebagai berikut (1) kohesi; perbuatan atau keadaan menghubungkan, memperlihatkan, (2).Koneksi; hubungan yang cocok dan sesuai atau ketergantungan satu sama lain yang rapi, beranjak dari hubungan-hubungan alamiah bagian-bagian atau hal-hal satu sama lain, seperti dalam bagian-bagian wacana, ataui argumen-argumen suatu rentetan penalaran.
Dari pengetian yang tertera pada kamus tersebut dapat dilihat bahwa tidak terlihat perbedaan nyata koherensi dan kohesi. Koherensi adalah pengaturan secara rapkenyataan dan gagasan, fakta dan ide menjadi suatu untaian yang logis sehingga mudah memahami pesan yang dikandungnya ( Wohl, 1978 : 25)
2.2 Jenis-jenis Koherensi                             
Aneka sarana keutuan wacana dari segi makna menurut Harimurti Kridalaksana (1978) yakni :
1        hubungan sebab akibat
2        hubungan alasan akibat
3        hubungan sarana hasil
4        hubungan sarana tujuan
5        hubungan latar kesimpulan
6        hubungan hasil kegagalan
7        hubungan syarat hasil
8        hubungan perbandingan
9        hubungan parafratis
10    hubungan amplikatif
11    hubungan aditif temporal
12    hubungan aditif non temporal
13    hubungan identifikasi
14    hubungan generic spesifik
15    hubungan ibarat
            Harimurti Kridalaksana ( 1984: 69 ), mengemukakan bahwa sebenarnya adalah hubungan semantis. Artinya hubungan itu terjadi antaraproposisi.
1        Hubungan  Amplikatif
            Hubungan Amplikatif adalah hubungan yang salah satu bagian kalimatnya memperkuat atau memperjelas bagian kalimat lainnya. Misalnya dalam kalimat “ Orang buta itu tidak bisa menyabrang. Seberangkan dia agar melewati jalan itu”.
2        Hubungan Kausalitas
            Hubungan kausalitas merupakan hubungan sebab-akibat. Misalnya pada kalimat “ Mengapa Rani bisa jatuh dari sepeda motor?”. Tentunya kalimat ini menimbulkan jawaban misalnya, karena ia sangat kencang mengendarai sepeda motornya. Kedua kalimat diatas sudah mengandung hubungan kausalitas.

  1. Tajuk Rencana
1.      Pengertian Tajuk Rencana
Tajuk rencana adalah tulisan kolom yang dibuat oleh redaksi penerbit pers. Ia dimuat dihalaman khusus bagi tulisan- tulisan opini tentang suatu masalah atau peristiwa ( Romli, 2005 : 88). Berdasarkan pendapat di atas, dijelaskan bahwa tajuk rencana merupakan tulisan-tulisan berupa opini tentang suatu masalah yang biasanya dimuat dihalaman khusus dan ditulis oleh pemimpin redaksi.. Romli (2005 : 89) mengemukakan bahwa Tajuk rencana (editorial) biasa disingkat “Tajuk” saja disebut juga “induk karangan” “opini redaksi”, atau “Leader”. Tajukrencana merupakan Jatidiri atau identitas sebuah media massa sesuai dengan visi dan misi tersebut
Dari pendapat di atas, dapat dijelaskan bahwa tajukrencana juga biasanya disebut sebagai editorial. Seseorang bisa menilai baik atau tidaknya kualitas suatu koran dapat dilihat dari hasil tulisan tajukrencana. Karena ia merupakan jatidiri dari sebuah media massa sesuai dengan visi dan misi media tersebut.
2.      Jenis-jenis Tajuk Rencana
Jenis jenis Tajuk Rencana antara lain :
1.memberikan informasi semata. Jarang dijumpai.
2.menjelaskan, hampir sama dengan interpretasi berita.
3.memberikan argumentasi, analitis sebab akibat suatu persitiwa.
4.menjuruskan timbulnya aksi.
5.bersifat jihad. Umumnya datang berturut-turut dan dengan sikap yang jelas.
6.bersifat membujuk, untuk mengambil tindakan atau pendapat umum.
7.bersifat memuji.
8.bersifat menghibur.
3. Karakteristik Tajuk Rencana
Tajuk rencana mempunyai sifat :
1. Krusial dan ditulis secara berkala, tergantung dari jenis terbitan medianya bisa harian (daily), atau mingguan (weekly), atau dua mingguan (biweekly) dan bulanan (monthly).
2. Isinya menyikapi situasi yang berkembang di masyarakat luas baik itu aspek sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, hukum, pemerintahan, atau olah raga bahkan entertainment, tergantung jenis liputan medianya.
3. Memiliki karakter atu konsistensi yang teratur, kepada para pembacanya terkait sikap dari media massa yang menulis tajuk rencana.
4. Terkait erat dengan policy media atau kebijakan media yang bersangkutan. Karena setiap media mempunyai perbedaan iklim tumbuh dan berkembang dalam kepentingan yang beragam, yang menaungi media tersebut.
Karena merupakan suara lembaga maka tajuk rencana tidak ditulis dengan mencantumkan nama penulisnya, seperti halnya menulis berita atau features. Idealnya tajuk rencana adalah pekerjaan, dan hasil dari pemikiran kolektif dari segenap awak media. Jadi proses sebelum penulisan tajuk rencana, terlebih dahulu diadakan rapat redaksi yang dihadiri oleh pemimpin redaksi, redaktur pelaksana serta segenap jajaran redaktur yang berkompeten, untuk menentukan sikap bersama terhadap suatu permasalahan krusial yang sedang berkembang di masyarakat atau dalam kebijakan pemerintahan.
Maka setelah tercapai pokok- pokok pikiran, dituangkanlah dalam sikap yang kemudian dirangkum oleh awak redaksi yang telah ditunjuk dalam rapat. Dalam Koran harian bisanya tajuk rencana ditulis secara bergantian, namun semangat isinya tetap mecerminkan suara bersama setiap jajaran redakturnya. Dalam proses ini reporter amat jarang dilibatkan, karena dinilai dari segi pengalaman serta tanggung jawabnya yang terbatas.
Karakter dan kepribadian pers terdapat sekaligus tercermin dalam tajuk rencana. Tajuk rencana juga mencerminkan dari golongan pers mana media tersebut berasal. Tajuk rencana pers papan atas (middle-high media) atau pers yang berkualitas misalnya memiliki ciri di antaranya :
1. Hati-hati
2. Normatif
3. Cenderung konservatif
4. Sedapat mungkin menghindari pendekatan kritis yang tajam
5. Pertimbangan aspek politis lebih besar dari aspek sosiologis

Namun tajuk rencana dari golongan pers papan tengah ke bawah (middle-low media) berlaku sebaliknya. Ciri tajuk rencana pers papan tengah adalah :
1. Lebih berani
2. Atraktif
3. Progresif
4. Tidak canggung untuk memilih pendekatan kritis yang bersifat tajam dan “tembak langsung”
5. Lebih memilih pendekatan sosiologis daripada pendekatan politis.
Teknis menulis tajuk rencana
a.Arti dan fungsi tajuk rencana
Secara teknis jurnalistik, tajuk rencana diartikan sebagai opini redaksi berisi aspirasi, pendapat, dan sikap resmi media pers terhadap persoalan potensial, fenomenal, aktual dan atau kontroversial yang terdapat dalam masyarakat.
Suara tajuk rencana bukan suara perorangan atau pribadi melainkan suara kolektif seluruh wartawan dan karywan dari suatu lembag penerbitan pers. Apa pun yang dibahas atau diulas, tajuk rencana tidak boleh mengeyampingkan pendapat redaksi.

Menurut William Pinkerton, fungsi tajuk rencana yaitu :
1.menjelaskan berita, sebagai guru, menerangkan bagaimana suatu kejadian berlangsung
2.menjelaskan latar belakang, menghubungkan sebuah cerita dengan sesuatu yang telah terjadi sebelumnya.
3.meramalkan masa depan, menyajikan analisis.
4.menyampaikan pertimbangan moral, mempertahankan kata hati masyarakat.

















BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
  1. Metode penelitian
               Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dan kualitatif. Menurut Maman (2002:3) penelitian deskriptif berusaha menggambarkan suatu gejala social. Metode kualitatif ini memberikan informasi yang mutakhir sehinggga bermanfaat bagi ilmu pengetahuan serta lebih banyak dapat diterapkan pada berbagai masalah. Penelitian kualitatif adalah proses pencarian data untuk memahami masalah sosial yang didasari pada penelitian yang menyeluruh (holistic), dibentuk oleh kata-kata, dan diperoleh dari situasi yang alamiah. Mendeskripsikan data apa adanya dan menjelaskan data atau kejadian dengan kalimat-kalimat penjelasan secara kualitatif.
  1. Sumber Data
No
Judul                     
Tanggal terbit
1
Presiden Obama dan RI
9Nopember 2010
2
Pahlawan Bencana Itu
10 Nopember 2010
3
Ujian Bagi Timur Pradopo
11 Nopember 2010
Sumber data ini adalah dari cerpen kompas yang terbitnya hari Selasa, Rabu dan Kamis.
Harian kompas merupakan salah satu harian yang terbit setiap harinya. Berita-berita yang terdapat sangat beragam, begitu juga tajuk rencananya.
Penulis menganalisis tajuk rencana ini karena tajuk rencana ini sangat berbeda dari tajuk rencana yang lainnya. Tajuk rencana ini juga tidak terlalu sulit untuk dipahami sehingga sangat mempermudah untuk menganalisisnya.

  1. Teknik Pengumpulan Data
  1. Penelitian Kualitatif
                 Penelitian kualitatif dilakukan pencarian data untuk memahami masalah sosial yang didasari pada penelitian yang menyeluruh (holistic), dibentuk oleh kata-kata, dan diperoleh dari situasi yang alamiah.


  1. Mendokumentasikan Data
            Mendokumentasikan data dilakukan untuk penyempurnaan dalam penganalisisan wacana  tajuk rencana yang mengacu pada aspek kohesi gramatikal.


  1. Teknik Observasi

      Penganalisisan data dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a.   Mencari/ menentukan aspek kohesinya.
b.   Mencari/ menentukan aspek koherensinya.
c.   Melihat keterkaitan kedua aspek tersebut.
d.   Merumuskan simpulan dari hasil analisis data.


  1. Teknik Analisis Data
               Untuk mengetahui bagaimana hubungan kohesi gramatikal yang meliputi pengacuan, konjungsi, dan perulangan pada tajuk rencana tersebut, maka teknik yang digunakan adalah pengkodean data. Penggunaan teknik ini dilakukan dengan 3 langkah, yaitu:
1.      Pengkodean Data
           Pengkodean data digunakan untuk mempermudah dalam penganalisisan wacana cerpen karena wacana ini memiliki banyak paragraf serta kalimat, maka untuk mempermudah (efektif dan efisien) dilakukanlah pengkodean data. Adapun pengkodean data ini yaitu :
                        K1          = Kalimat 1
                        K2          = Kalimat 2
Penganalisisan data dengan langkah-langkah sbb:
1. mencari/ menentukan aspek kohesinya.
2. mencari/ menentukan aspek koherensinya.
3. melihat keterkaitan kedua aspek tersebut.
4. merumuskan simpulan dari hasil analisis data.































BAB IV

PEMBAHASAN

A. Penyajian Data
1. Kohesi
Kohesi merupakan aspek formal bahasa dalam wacana. Dengan itu kohesi adalah 'organisasi sintaktik'. Organisasi sintaktik ini adalah merupakan wadah ayat-ayat yang disusun secara padu dan juga padat. Dengan susunan demikian organisasi tersebut adalah untuk menghasilkan tuturan. Ini bermaksud bahawa kohesi adalah hubungan di antara ayat di dalam sebuah wacana, baik dari segi tingkat gramatikal maupun dari segi tingkat leksikal tertentu. Dengan penguasaan dan juga pengetahuan kohesi yang baik, seorang penulis akan dapat menghasilkan wacana yang baik.
Kohesi merupakan konsep semantik yang juga merujuk kepada perkaitan kebahasaan yang didapati pada suatu ujaran yang membentuk wacana. Manakala menurut Halliday dan Hasan (1976:5) bahwa kohesi merupakan satu set kemungkinan yang terdapat dalam bahasa untuk menjadikan suatu 'teks' itu memiliki kesatuan.
           Halliday dan Hasan (1976:7) telah mencoba melihat kohesi makna itu dari dua sudut, yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Kedua-dua gramatikal ini terdapat dalam sesuatu kesatuan teks. Kohesi ini juga memperlihatkan jalinan ujaran dalam bentuk kalimat untuk membentuk suatu teks atau konteks dengan cara menghubungkan makna yang terkandung di dalam unsur.

ü  Aspek-Aspek Kohesi
1.      Kohesi Gramatikal
   Kohesi gramatikal adalah kepaduan bentuk bagian-bagian wacana yang diwujudkan ke dalam sistem gramatikal. Kohesi jenis ini meliputi referensi,konjungsi dan repetisi. Berikut ini adalah uraian tentang pemakaian setiap alat kohesi gramatikal  pada wacana tajuk rencana.




Penanda hubungan gramatikal yaitu:
1)      Referensi
               Referensi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain yang mendahului atau mengikutinya.
               Dalam tajuk rencana Selasa, 9 Nopember 2010 “Presiden Obama dan RI” terdapat kohesi referensi anaforis dan kataforis yang masing-masing akan dibahas di bawah ini:

a. Referensi Anaforis
Referensi Anaforis adalah data yang diacu terdapat dalam wacana.    Dalam pembagiannya, terdapat referensi anaforis dan kataforis.
           Referensi Anaforis adalah referensi anaforis yang berposisi sesudah antesedennya. Sedangkan referensi kataforis adalah referensi endeforis yang mengacu sebelum antesedennya. Di bawah ini akan diuraikan sebagian dari data wacana yang mengacu pada referensi tersebut. Namun, pada bagian akhir akan diuraikan lebih detail dalam bentuk tabel.
1        Referensi anaforis dalam wacana tajuk rencana:
Presiden AS setia pada komitmennya untuk menjalin kerja sama dengan Indonesia. Kedua, ia teguh mewujudkan kunjungan di tengah masih belum redanya letusan Gunung Merapi.
2         Referensi Personal
Presiden AS setia pada komitmennya untuk menjalin kerja sama dengan Indonesia.
b. referensi akseforis
               referensi ekseforis adalah data acuan tidak ada dalam wacana atau di luar wacana.






2)      Konjungsi
Konjungsi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang dilakukan dengan cara menghubungkan unsur yang satu dengan yang lain dalam wacana. Unsur yang dirangkai dapat berupa satuan lingual kata , farasa, kalimat, klausa.dan dapat juga berupa unsur yang lebih besar .
Contoh yang terdapat pada tajuk rencana:
Kepahlawanan living hero kita petik justru karena mereka masih berkarya dalam sepi, tanpa pamrih, ibarat yogi-yogi atau para asketis intelektual. 


2.      Kohesi Leksikal
 Penanda hubungan Leksikal yaitu:
1)  Repetisi
Repetisi adalah pengulangan satuan lingual ( bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat ) yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam suatu konteks.

“Dalam keterangan pers Selasa, Mabes Polri mengakui ada kelalaian dari sembilan anggota polisi, termasuk Kepala Rutan Komisaris IS. (K9)Mereka dibebastugaskan untuk kepentingan penyelidikan. Melalui pengacaranya, Adnan Buyung Nasution, hari Rabu, akhirnya Gayus mengakui keluar dari rutan untuk berobat, yang sebelumnya dia bantah.
2)  Sinonimi
         Sinonimi ialah suatu kata yang mempunyai makna yang sama dengan 'kata searti'. Sinonimi ini digunakan kerana hanya untuk mengelakkan kebosanan bagi pengulangan kata yang sama di dalam teks dan juga sinonimi ini memberikan variasi kepada sesuatu teks.
Sinonimi merupakan salah sati aspak leksikal untuk mendukung kepaduan wacana. Sinonimi dibagi menjadi  5 yaitu;
1.   Sinonimi antar morfem bebas dengan morfem terikat
2.   Kata dengan kata
3.   Kata dengan frasa
4.   Frasa dengan frasa
5.   Klausa/kalimat dengan  klausa/ kalimat.
ü  Pita merasa pernah melihat wajah lelaki itu. Bahkan pernah mengenali tatapannya”



3.      Koherensi
           Koherensi mengandung makna pertalian makna atau isi kalimat ( HG Tarigan 197 : 32 ). Koherensi berarti juga hubungan timbal balik yang yang serasi antar unsur dalam kalimat ( Gorys Keraf, 1984 :38 ). Sedangkan menurut Wahyudi (1989 : 6 ), berendapat bahwa hubungan koherensi adalah keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian lainnya, sehingga kalimat memilikikesatuan makna yang utuh. Wacana yang koheren memiliki ciri-ciri : Susunannya teratur danamanatnya terjalin rapi, sehingga mudah diinterprestasikan ( Samiati, 1989:5).
           Harimurti Kridalaksana ( 1984: 69 ), mengemukakan bahwa sebenarnya adalah hubungan semantis. Artinya hubungan itu terjadi antaraproposisi.
1.      Hubungan  Amplikatif
Hubungan Amplikatif adalah hubungan yang salah satu bagian kalimatnya memperkuat atau memperjelas bagian kalimat lainnya. Misalnya dalam kalimat Tentu kita berharap kunjungan ini produktif dan menghasilkan manfaat konkret bagi kedua Negara Ini kunjungan yang tertunda.
2.      Hubungan Kausalitas
Hubungan kausalitas merupakan hubungan sebab-akibat. Misalnya pada kalimat”‘sebab’, yaitu Merapi masih menyisakan terror psikologis, ‘akibat’ musibah alam itupun seolah-olah menggenapkan kekhawatiran melapuknya kualitas bangsa .”.




  1. Pembahasan Hasil (Analisis Data)
Tabel Analisis Piranti Kohesi Wacana Tajuk Rencana pada hari Selasa, 9 Nopember 2010
NO
Kalimat
Piranti unsur kohesif
Tipe kohesi
Jarak antar unsur
Unsur terelasi
1
2
Karena
Konj. Kausal
SO
Informasi (9)
2
2
Dan
Konj. Penambahan
SO
Informasi (2)
3
2
Kunjungan
Ulangan Btk Lain
SO
Kunjungan (1)
4
2
Rencana
Ulangan Penuh
SO
Rencana (2)
5
3
-nya
Referensi Personal
SO
Presiden AS (2)
6
4
-nya
Referensi Personal
SO
Presiden AS (4)
7
4
Dengan
Konj. Cara
SO
Informasi (3)
8
5
Ia
Referensi Anaforis
SO
Presiden AS (4)
9
5
Mewujudkan
Ulangan Btk Lain
S1
Diwujudkan (3)
10
5
Kunjungan
Ulangan Penuh
SJ
Kunjungan (1)
11
6
Dan
Konj. Penambahan
SO
Informasi (2)
12
6
Kunjungan
Ulangan Penuh
SO, SJ
Kunjungan (1),(5),(6)
13
7
Dan
Konj. Penambahan
SO
Informasi (6)
14
7
Juga
Konj. Penambahan
SO
Informasi (6)
15
7
Kunjungan
Ulangan Penuh
SJ,SJ,S2,SO
Kunjungan (1,5,6,7)
16
8
Tetapi
Konj. Adversatif
S1
Informasi (6)
17
8
Kemitraan
Ulangan Penuh
SO
Kemitraan (8)
18
9
Namun
Konj. Adversatif
SO
Informasi (8)
19
10
-nya
Referensi Personal
SO
Informasi (9)
20
10
Dan
Konj. Penambahan
SO
Informasi (9)
21
11
Dan
Konj. Penambahan
S1
Informasi (9)
22
11
Dengan
Konj. Cara
SO
Informasi (10)
23
12
Dengan
Konj. Cara
S1
Informasi (10)
24
12
Urgen
Ulangan Penuh
SO
Urgen (2)
25
14
Hal
Ulangan Penuh
SO
Hal (13)
26
15
Dan
Konj. Penambahan
SO
Informasi (14)
27
15
Inovasi
Ulangan Penuh
SO
Inovasi (14,15)
28
16
Apabila
Konj. Syarat
SO
Informasi (15)
29
16
Inovasi
Ulangan Penuh
SO,S1
Inovasi (14,15,16)
30
17
Dan
Konj. Penambahan
SO
Informasi (16)
31
17
Dengan
Konj. Cara
SO
Informasi (16)
32
17
Dan
Konj. Penambahan
SO
Informasi (16)
33
19
Namun
Konj. Adversatif
SO
Informasi (18)
34
19
Apabila
Konj. Syarat
SO
Informasi (18)
35
19
Kunjungan
Ulangan Penuh
SJ
Kunjungan (1,5,6,7)
36
8
Komprehensif
Ulangan Penuh
SO
Komprehensif (7)

Dalam kalimat (2) terdapat empat piranti kohesi yaitu, (a)karena sebagai konjungsi kausal terhadap informasi (1). (b) Dan sebagai konjungsi penambahan terhadap informasi (2). (c)kunjungan sebagai ulangan bentuk lain terhadap kunjungan (1). (d) rencana sebagai ulangan penuh terhadap rencana (2).
Dalam Kalimat (6)terdapat dua piranti kohesi yaitu, (a) Dan sebagai konjungsi penambahan terhadap informasi (3). (b) kunjungan sebagai ulangan penuh terhadap kunungan (1,5,6). Dalam (7) terdapat tiga piranti kohesi yaitu, (a) Dan sebagai konjungsi penambahan terhadap informasi (6). (b) juga sebagai konjungsi penambahan terhadap informasi (6). (c) kunjungan sebagai ulangan penuh terhadap kunjungan (1,5,6,7). Dalam Kalimat (8) terdapat tiga piranti kohesi yaitu, (a) tetapi sebagai konjungsi adversative terhadap informasi (6). (b) kemitraan sebagai ulangan penuh terhadap kemitraan (8). (c) komprehensif sebagai ulangan penuh terhadap komprehensif (7).
Dalam kalimat (10) terdapat dua piranti kohesi yaitu, (a) –nya (merealisasikannya) sebagai referensi personal terhadap informasi (9). (b) dan sebagai konjungsi penambahan terhadap informasi (9). Dalam (11) terdapat dua piranti kohesi yaitu, (a)  dan sebagai konjungsi penambahan terhadap informasi(9). (b)dengan sebagai konjungsi cara terhadap informasi (10).
Dalam kalimat (12) terdapat dua piranti kohesi yaitu, (a)  dengan sebagai konjungsi cara terhadap informasi (10). (b) urgen sebagai ulangan penuh terhadap urgen (11). Dalam (14) terdapat piranti kohesi yaitu, hal sebagai ulangan penuh terhadap hal (13). Dalam (15) terdapat dua piranti kohesi yaitu, (a) dan sebagai konjungsi penambahan terhadap informasi(14). (b) inovasi sebagai ulangan penuh terhadap inovasi (14,15).
Dalam Kalimat (16) terdapat dua piranti kohesi yaitu, (a) apabila sebagai konjungsi syarat terhadap informasi (15). (b) inovasi sebagai ulangan penuh terhadap inovasi (14.15.16). Dalam (17) terdapat tiga piranti kohesi yaitu, (a) dan sebagai konjungsi penambahan terhadap informasi(16). (b) dengan sebagai konjungsi cara terhadap informasi (16). Dalam (19) terdapat tiga piranti kohesi yaitu, (a) namun sebagai konjungsi adversative terhadap informasi (18). (b) apabila sebagai konjungsi syarat terhadap informasi (18). (c) kunjungan sebagai ulangan penuh terhadap kunjungan (1,5,6,7).

ANALISIS PIRANTI KOHERENSI PADA TAJUK RENCANA 1

  1. Dalam (P2/K5) dan (P1) tercipta hubungan Amplikatif (Penjelasan), hal ini ditandai dengan pemakaian piranti kohesi perulangan/repetisi pada kata kunjungan yang memberi penjelasan (P1).
  2. Dalam (P8/K17) dan (P6) tercipta hubungan Penambahan, hal ini ditandai dengan ungkapan selebihnya yang merupakan tambahan dari hal yang telah disebut sebelumnya, yaitu tentang Obama pada (P6).
  3. Dalam (P7/K14) dan (P6) tercipta hubungan Penambahan, hal ini ditandai dengan ungkapan hal lain yang merupakan penambahan dari hal yang telah disebutkan sebelumnya pada (P6)
  4. Dalam (P6/K13) dan (P9) tercipta hubungan Kausalitas, kalimat 13 bermakna ‘sebab’, yaitu Presiden Obama akan mendengarkan penjelasan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentang bencana alam yang sering dialami Indonesia sebagai Negara di kawasan cincin api (P6).
Kalimat ini secara semantis membutuhkan makna lain sebagai pasangannya, yaitu ‘akibat’. Makna itu terdapat dalam kalimat Obama tak punya banyak waktu untuk bernostalgia mengenang masa kecil di Menteng, Jakarta (P9).


























Tabel Analisis Piranti Kohesi Wacana Tajuk Rencana pada hari Rabu, 10 Nopember 2010

No
Kalimat
Piranti unsur kohesif
Tipe kohesi
Jarak antar unsur
Unsur terelasi
1
3
Dan
Konj. Penambahan
SO
Informasi (2)
2
3
Pahlawan
Ulangan Penuh
SO
Pahlawan (2)
3
5
Tetapi
Konj. Adversatif
SO
Informasi (5)
4
5
Dan
Konj. Penambahan
SO
Informasi (5)
5
5
Masa
Ulangan Penuh
SO
Masa (5)
6
6
Tetapi
Konj. Adversatif
SO
Informasi (5)
7
7
Karena
Konj. Kausal
S1
Informasi (5)
8
7
Dengan
Konj. Cara
S1
Informasi (5)
9
7
Teater
Ulangan Penuh
SJ
Teater (3)
10
9
Dan
Konj. Penambahan
SO
Informasi (8)
11
10
Merapi
Ulangan Penuh
S1
Merapi (8)
12
14
Pahlawan
Ulangan Penuh
SJ
Pahlawan (2,3)
13
14
Bencana
Ulangan Penuh
SJ
Bencana (8)
14
15
Dan
Konj. Penambahan
SO
Informasi (14)
15
15
Dengan
Konj. Cara
SO
Informasi (14)
16
15
Merapi
Ulangan Penuh
S1, SJ
Merapi (8,10,14)
17
16
Dan
Konj. Penambahan
SO
Informasi (15)
18
16
Dengan
Konj. Cara
SO
Informasi (15)
19
19
Rakyat
Ulangan Penuh
SO
Informasi (18,19)
20
21
Dan
Konj. Penambahan
SO
Informasi (20)
21
23
Dan
Konj. Penambahan
SO
Informasi (22)
22
23
Kepahlawanan
Ulangan Penuh
S1
Kepahlawanan (21)
23
25
Karena
Konj. Kausal
SO
Informasi (25)
24
25
Atau
Konj. Pilihan
SO
Informasi (24)
25
25
Tanpa Pamrih
Ulangan Penuh
SJ
Tanpa Pamrih (15)
           
Dalam Kalimat (3) terdapat dua piranti kohesi yaitu, (a) dan sebagai konjungsi penambahan terhadap informasi (2). (b) pahlawan sebagai ulangan penuh terhadap pahlawan (2). Dalam K (5) terdapat tigapiranti kohesi yaitu, (a) tetapi sebagai konjungsi adversative terhadap informasi (5). (b) dan sebagai konjungsi penambahan terhadap informasi (5). (c) masa sebagai ulangan penuh terhadap masa (5). Dalam K(6) terdapat satu piranti kohesi yaitu, tetapi sebagai konjungsi adversative terhadap informasi (5).
            Dalam K(7) terdapat tiga piranti kohesi,yaitu (a) karena sebagai konjungsi kausal terhadap informasi (5). (b) dengan sebagai konjungsi cara terhadap informasi (5). (c) teater sebagai ulangan penuh terhadap teater (3). Dalam K (9), dan sebagai konjungsi penambahan terhadap informasi (8). Dalam K (10), merapi sebagai ulangan penuh terhadap merapi (8).
            Dalam K (14) terdapat dua kohesi,yaitu (a) pahlawn sebagai ulangan penuh terhadap pahlawan (2,3). (b)bencana sebagai ulanan penuh bencana (8). Dalam K(15) terdapat tiga piranti kohesi yaitu (a)dengan sebagai konjungsi cara terhadap informasi (14). (b) dan sebagai konjungsi penambahan terhadap informasi (14). (c) merapi sebagai ulangan penuh terhadap merapi (8,10,14). Dalam K (16) terdapat dua piranti kohesi yaitu, (a) dan sebagai konjungsi penambahan terhadap informasi (15). (b) dengan sebagai konjungsi cara terhadap informasi (15).
            Dalam K (19), rakyat sebagai ulangan penuh terhadap rakyat (18,19). Dalam K (21), dan sebagai konjungsi penambahan terhadap informasi (20). Dalam K (23) ada dua piranti kohesi yaitu, (a) dan sebagai konjungsi penambahan terhadap informasi (22). (b) kepahlawanan sebagai ulangan penuh terhadap kepahlawanan (21). Dalam K (24), dan sebagai konjungsi penambahan terhadap informasi (23). Dalam K (25) terdapat tiga piranti kohesi, yaitu (a) karena sebagai konjungsi sebab akibat terhadap informasi (25). (b) atau sebagai konjungsi pilihan terhadap informasi (25). (c) tanpa pamrih sebagai ulangan penuh terhadap tanpa pamrih(15).



ANALISIS PIRANTI KOHERENSI PADA TAJUK RENCANA 2

  1. Pada (P1) dan (P2) tercipta hubungan makna Amplikatif, hal ini ditandai dengan pemakaian piranti kohesi perulangan/repetisi pada kata teater (P2/K7) yang memberi penjelasan (P1/K3).
  2. Pada (P2) dan (P3) tercipta hubungan makna Amplikatif, hal ini ditandai dengan pemakaian piranti kohesi perulangan/repetisi pada kata aktualitas (P3/K8) yang memberi penjelasan (P2/K7).
  3. Pada (P3) dan (P4) tercipta hubungan makna Kausalitas, kalimat 10 bermakna ‘sebab’, yaitu Merapi masih menyisakan terror psikologis. Kalimat ini secara semantis membutuhkan makna lain sebagai pasangannya, yaitu ‘akibat’. Makna itu terdapat dalam kalimat 11 yaitu musibah alam itupun seolah-olah menggenapkan kekhawatiran melapuknya kualitas bangsa . . . keterkaitan kedua kalimat secara semantic itu menyebabkan kedua bagian (proposisi) tersebut saling membutuhkan agar terbentuk keutuhan makna.
  4. Pada (P9) dan (P8) tercipta hubungan makna Amplikatif, hal ini ditandai dengan pemakaian piranti kohesi perulangan/repetisi pada kata menaruh (P9/K24) yang memberi penjelasan (P8/K23).
  5. Pada (P7) dan (P6) tercipta hubungan makna Penambahan, hal ini ditandai dengan kata paradoks kepahlawanan merupakan bentuk tambahan terhadap (P6).









Tabel Analisis Piranti Kohesi Wacana Tajuk Rencana pada hari Kamis, 11 Nopember 2010


No
Kalimat
Piranti Unsur Kohesi
Tipe Kohesi
Jarak antar Unsur
Unsur Terelasi
1
3
Gayus
Ulangan Penuh
SO, S1
Gayus (1,2)
2
5
Dengan
Konj. Cara
SO
Informasi (5)
3
6
Tetapi
Konj. Pertentangan
SO
Informasi (5)
4
6
Setelah
Konj. Waktu
SJ
Informasi (1)
5
7
Mabes Polri
Ulangan Penuh
S1
Mabes Polri (5)
6
9
Rutan
Ulangan Penuh
SO
Rutan (8)
7
12
Atau
Konj. Pilihan
SO
Informasi (11)
8
13
Atau
Konj. Pilihan
SO
Informasi (12)
9
13
Dengan
Konj. Cara
SO
Informasi (12)
10
13
Kuatnya Jaringan
Ulangan Penuh
SO
Kuatnya Jaringan (12)
11
14
Dengan
Konj. Cara
SO
Informasi (13)
12
16
Dan
Konj. Penambahan
S1
Informasi (14)
13
17
Apa
Konj. Pilihan
SO
Informasi (12)
14
17
Dengan
Konj. Cara
SO
Informasi (13)
15
17
Lalu
Konj. Urutan
SO
Informasi (13)
16
18
Dengan
Konj. Cara
SO
Informasi (13)
17
18
Uang
Ulangan Penuh
SO
Uang (17)
18
18
Membeli
Ulangan Penuh
SO
Membeli (18)
19
19
Dengan
Konj. Cara
SO
Informasi (18)
20
20
Dengan
Konj. Cara
SO
Informasi (19)
21
20
Gayus
Ulangan Penuh
SJ
Gayus (9,10,11,12,13)
22
21
Namun
Konj. Pertentangan
SJ
Informasi (14)
23
21
Dan
Konj. Penambahan
SO
Informasi (20)
24
21
Penyelidikan
Ulangan Penuh
SJ
Penyelidikan (8)
25
21
Eddy Tansil
Ulangan Penuh
SJ
Eddy Tansil (16)
26
21
Mengorbankan
Ulangan Penuh
SO
Mengorbankan (21)
27
23
Agar
Konj. Tujuan
SO
Informasi (22)
28
24
Karena
Konj. Sebab-Akibat
SO
Informasi (23)

Dalam Kalimat (3) terdapat satu piranti kohesi yaitu, Gayus sebagai ulangan penuh terhadap Gayus (1,2). DalamK (5), dengan sebagai konjungsi cara terhadap informasi (5). Dalam K (6) terdapat dua piranti kohesi, yaitu (a) tetapi sebagai konjungsi pertentangan terhadap informasi (5). (b) setelah sebagai konjungsi waktu terhadap informasi (1). Dalam K (7), mabes Polri sebagai ulangan penuh terhadap mabes Polri(5). Dalam K (9), rutan sebagai ulangan penuh terhadap rutan (2,7). Dalam (12), atau sebagai konjungsi pilihan terhadap informasi (11). Dalam K (13) ada tiga piranti kohesi yaitu, (a) atau sebagai konjunsi pilihan terhadap informasi (12). (b)dengan sebagai konjungsi cara terhadap informasi (12). (c) kuatnya jaringan sebagai ulangan penuh terhadap kuatnya jaringan (12). Dalam K (14), dengan sebagai konjungsi cara terhadap informasi (13).
Dalam K (16), dan sebagai konjungsi penambahan terhadap informasi (14). Dalam K (17) terdapat tiga piranti kohesi yaitu, (a) apa sebagai konjungsi pilihan terhadap informasi (17). (b) lalu sebagai konjungsi urutan terhadap informasi (16). (c) dengan sebagai konjungsi cara terhadap informasi (16). Dalam K (18) terdapat tiga piranti kohesi yaitu, (a) dengan sebagai konjungsi cara terhadap informasi (17). (b)uang sebagai ulangan penuh terhadap uang (17). (c) membeli sebagai ulangan penuh terhadap membeli (18). Dalam (19), dengan sebagai konjungsi cara terhadap informasi (18). Dalam K (20) terdapat dua piranti kohesi yaitu, (a) dengan sebagai konjungsi cara terhadap informasi (19). (b) Gayus sebagai ulangan penuh terhadap Gayus (9,10,11,12,13).
Dalam K (21) terdapat lima piranti kohesi yaitu, (a) namun sebagai konjungsi pertentangan terhadap informasi (14). (b) dan sebagai konjungsi penambahan terhadap informasi (20). (c) penyelidikan sebagai ulangan penuh terhadap penyelidikan (8). (d)Eddy Tansil sebagai ulangan penuh terhadap Eddy Tansil(16). (e)mengorbankan sebagai ulangan penuh terhadap mengorbankan (21). Dalam K (23), agar sebagai konjungsi tujuan terhadap informasi (22). Dalam K (24), karena sebagai konjungsi sebab-akibat terhadap informasi (23).

ANALISIS PIRANTI KOHERENSI PADA TAJUK RENCANA 3

  1. Pada (P2) dan (P1) tercipta hubungan makna Amplikatif, hal ini ditandai dengan pemakaian piranti kohesi perulangan/repetisi pada kata bantahan (P2/K1) yang memberi penjelasan (P1).
  2. Pada (P4) dan (P3) tercipta hubungan makna Penambahan terhadap (P3), karena kata hebatnya merupakan bentuk tambahan dari hal yang telah disebut sebelumnya, yaitu tentang skandal keluarnya Gayus.
  3. Pada (P6) dan (P5) tercipta hubungan makna Kausalitas, kalimat 14 bermakna ‘sebab’, yaitu kita prihatin sekaligus gusar dengan masih adanya praktik itu. Kalimat ini secara semantis membutuhkan makna lain sebagai pasangannya, yaitu ‘akibat’. Makna itu terdapat dalam kalimat 11 yaitu atas dasar itu, kita menyambut baik langkahPolri . . . keterkaitan kedua kalimat secara semantic itu menyebabkan kedua bagian (proposisi) tersebut saling membutuhkan agar terbentuk keutuhan makna.
  4. Pada (P6) dan (P3) tercipta hubungan makna Amplikatif, hal ini ditandai dengan pemakaian piranti kohesi perulangan/repetisi pada kata menyelidiki/penyelidikan (P3/K8) yang memberi penjelasan (P6).











BAB V
PENUTUP

  1. Kesimpulan
Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pengacuan atau referensi yaitu salah satu jenis kohesi gramatikal atau berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain (atau suatu acuan) yang mendahului atau mengikutinya dalam surat kabar terdapat jenis dan wujud penanda referensial. Jenis penanda referensial berdasarkan tempat acuannya menyangkut pengacuan endofora (anaforis dana kataforis) dan pengacuan eksofora; sedangkan jenis penanda referensial menurut tipenya meliputi (1) referensi persona (referensi persona pertama, referensi persona kedua, dan referensi persona ketiga), (2) referensi demonstratif (pronomina penunjuk umum, pronomina penunjuk tempat, pronomina penunjuk ihwal, dan penunjuk adverbial), dan (3) referensi komparatif (tingkat ekuatif, tingkat komparatif, dan tingkat
superlatif).
Wacana sebagai dasar dalam pemahaman teks sangat diperlukan masyarakat dalam berkomunikasi dengan informasi secara utuh. Wacana yang baik harus memperhatikan isi (informasi) yang koheren dan keruntutan unsur pendukung (kohesi).
  1. Saran
Semoga penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh para pemerhati bahasa khususnya penulis yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Penulisan wacana tulis berbahasa Indonesia harus memperhatikan pembentukan kalimat yang membentuk paragraf yang utuh. Keterkaitan dalam pembentukan paragraf dapat dilakukan dengan mengunakan penanda referensial. Penanda referensial merupakan salah satu cara membentuk hubungan dalam paragraf secara gramatikal.
Penelitian tentang wacana tulis ini, hanya dibahas tentang penggunaan penanda referensial dalam membentuk keterkaitan atau keutuhan dalam penulisan paragraf, oleh karena itu, disarankan bagi peneliti lain untuk mengkaji wacana tulis dari sudut pandang dan objek yang berbeda.


DAFTAR PUSTAKA

Mulyana.2005.kajian wacana.Yogyakarta:tiara wacana.
Sumarlam.2003.analisis wacana.Surakarta:Pustaka Cakra.



















Lampiran
Wacana Tajuk Rencana pada hari Selasa, 9 Nopember 2010

“Presiden Obama dan RI”

Jika tidak ada perubahan lagi, hari Selasa ini kita akan menyambut tamu yang amat terhormat, Presiden Amerika Serikat Barack Obama.
            P1(K1)Ini kunjungan yang tertunda. (K2)Pemimpin AS ini sebelumnya dua kali membatalkan rencana program kesehatan yang saat itu akan diputuskan oleh DPR dan konsentrasi menanggulangi kebocoran lading minyak di Teluk Meksiko.
            P2(K3)Kalau akhirnya lawatan ke Indonesia bias diwujudkan, kita menghargainya untuk dua hal. Pertama, Presiden AS setia pada komitmennya untuk menjalin kerja sama dengan Indonesia. (K4)Kedua, ia teguh mewujudkan kunjungan di tengah masih belum redanya letusan Gunung Merapi.
            P3(K5)Tentu kita berharap kunjungan ini produktif dan menghasilkan manfaat konkret bagi kedua Negara. (K6)Selain mengunjungi Masjid Istiqlal dan memberikan ceramah di Universitas Indonesia, Obama dalam kunjungan dua hari di Indonesia ini juga akan menyaksikan penandatanganan persetujuan Kemitraan Komprehensif AS-RI.
            P4(K7)Sejumlah pihak memang membedakan sebutan di atas dengan Kemitraan Strategis, tetapi-dilatarbelakangi oleh perkembangan sejarah masing-masing yang berbeda- Kemitraan Komprehensif boleh jadi sudah memadai. (K8)Yang penting butir-butir persetujuan itu bias direalisasikan.
            P5(K9)Tentang isi dan prioritas merealisasikannya, kita bias merundingkannya lebih lanjut. (K10)Ada yang melihat pengembangan kerja sama di bidang pertahanan dan militer, termasuk di dalamnya latihan bersama dengan kopassus, sebagai yang tergolong urgen. Lainnya mungkin melihat yang urgen adalah yang terkait dengan ekonomi.
            P6(K11)Hal yang boleh jadi konstektual adalah bahwa ketika berada di Indonesia, Presiden Obama akan mendengarkan penjelasan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentang bencana alam yang sering dialami Indonesia sebagai Negara di kawasan cincin api.
            P7(K12)Hal lain yang juga bisa diangkat oleh Presiden Bambang Yudhoyono adalah pengembangan tradisi inovasi. (K12)Kita tahu ada banyak perusahaan AS yang amat unggul dalam inovasi, dan Presiden Yudhoyono juga meyakini inovasi memegang peran penting bagi ekonomi Indonesia ke depan. (K13)Akan menjadi hal yang bermanfaat apabila budaya inovasi bias kita pelajari melalui kerja sama RI-AS.
            P8(K14)Selebihnya kita percaya, Obama yang kita nilai merupakan pemimpin dunia yang unggul dapat berbagi dengan kita tentang berbagai visi dan strategi pembangunan bangsa, khususnya di masa ketika dunia berhadapan dengan persaingan dan ketidakpastian sekarang ini.
            P9(K15)Dalam lawatan singkat, Obama tak punya banyak waktu untuk bernostalgia mengenang masa kecil di Menteng, Jakarta. (K16)Namun, apabila kita tepat memanfaatkan momentum kunjungan ini, selain akan mendapatkan saling pengertian lebih besar yang dibutuhkan bagi hubungan yang lebih kokoh, kita juga akan mendapatkan hasil konkret untuk mengatasi sejumlah problem yang kita hadapi.



Wacana Tajuk Rencana pada hari Rabu, 10 Nopember 2010
“PAHLAWAN BENCANA ITU!”

Apa makna Hari Pahlawan 10 November 2010? Pertanyaan itu mungkin basi, tetapi itu sering kita lupakan. Kita luput memetik momentum pembelajaran.
            P1(K1)Benar tulis Sanento Yuliman 40 tahun lalu. (K2)Pahlawan adalh took teateral. (K3)Untuk jadi pahlawan, seseorang harus memenuhi syarat teter, memiliki jejak luhur, dramatis, dan meninggalkan ingatan kolektif yang serba harum. (K4)Syarat itu hanya bisa dipenuhi mereka yang almarhum.
            P2(K5)Memetik pelajaran tidak berarti untuk masa lalu, tetapi untuk masa sekarang dan masa depan. (K6)Tidak untuk berandai – andai, tetapi untuk memperbaiki kualitas hidup. (K7)Karena itu, nilai kepahlawanan bukan pentas teater, melainkan relevan dengan aktualitas yang tengah berlangsung.
            P3(K8)Lantas apa aktualitas saat ini? Bencana banjir Wasior, tsunami Mentawai, letusan Merapi. (K9)Ketiga peristiwa itu masih meninggalkan kerusakan dan kepiluan berkepanjangan. (K10)Merapi masih menyisakan terror psikologis.
            P4(K11)Musibah alam itu pun seolah-olah  menggenapkan kekhawatiran melapuknya kualitas bangsa. (K12)Penanganan kasus korupsi yang terkesan jalan di tempat, buruknya kinerja cabinet, hilangnya hati nurani wakil rakyat-sekadar kita sebut contoh fakta potensi kelapukan. (K13)Kita tidak habis piker bagaiman tersangka Gayus diduga bisa pelesiran ke Bali.
            P5(K14)Siapa sosok pahlawan, bukan dead hero, melainkan living hero tahun 2010? Dalam konteks bencana, merekalah pekerja sepi, seperti para penunggu gunung berapi, yang baru diingat ketika gunung berulah seperti Merapi. (K15)Merekalah para relawan yang dengan hati tanpa pamrih terjun menolong korban Wasior, dan Merapi.
            P6(K16)Kita apresiasi aparat militer dengan kelengkapan alat, kesiapan fisik dan keterampilan, melakukan evakuasi korban erupsi Merapi , juga di Wasior dan Mentawai. (K17)Kegesitan mereka tersaji jelas di depan mata berkat media. (K18)Tanpa slogan “dari rakyat untuk rakyat” merekatampilkan ke pahlawan. (K19)Sebaliknya kita tidak mengerti ketika wakil rakyat bergeming tidak tersentuh hati, studi banding anggota DPR diwarnai perilaku tidak terpuji, menghapus ingatan penderitaan rakyat untuk berpromosi, membuat pernyataan politik yang menyakiti hati.
            P7(K20)Pardoks kepahlawanan yang dipotret jajk pendapat harian ini (Kompas, 8/11), menggenapi catatan kita. (K21)Lebih dari 70 persen responden meragukan jiwa dan semangat kepahlawanan para pemimpin politik negeri ini.
            P8(K22)Ditaruh di atas meja kedua realitas serba kontras dan ironis itu tersimpan keyakinan. (K23)Kepahlawanan 2010 layak disematkan kepada mereka yang hari-hari ini bergelut tanpa pamrih di lokasi bencana, yang manaruh simpati dan yang berbagi berkah demi duka-sedih negeri ini.
            P9(K24)Menaruh ke permukaan sosok living hero tidak berarti manafikan sosok keteladanan dan  pengorbanan para anumerta. (K25)Kepahlawanan living hero kita petik justru karena mereka masih berkarya dalam sepi, tanpa pamrih, ibarat yogi-yogi atau para asketis intelektual. 










Wacana Tajuk Rencana pada hari Kamis, 11 Nopember 2010
“Ujian bagi Timur Pradopo”
Bisa keluarnya Gayus Tambunan, terdakwa kasus pajak, dari Rumah Tahanan Brimob sungguh keterlaluan! Itu tamparan bagi kepolisian!
            P1(K1)Skandal keluarnya Gayus tertangkap kamera wartawan ketika orang berwajah mirip wajah Gayus menyaksikan pertandingan tennis di Bali. (K2)Gayus sendiri membantah telah meninggalkan Rutan Brimob. (K3)Sebagaimana dikutip media massa, Gayus mengatakan, “Enggak. Saya di dalam saja. (K4)Orang penjaranya digembok, gimana bukanya.”
            P2(K5)Bantahan Gayus itu berbeda dengan keterangan Mabes Polri. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Iskandar Hasan mengatakan, Gayus meminta izin berobat tapi tidak pulang-pulang. (K6)Setelah dicari, Gayus diketahui pulang ke rumahnya di Kelapa Gading. (K7)“Ia lalu dijemput anggota yang mengawal,” kata Iskandar (kompas, 9 November 2010).
            P3(K8)Dalam keterangan pers Selasa, Mabes Polri mengakui ada kelalaian dari sembilan anggota polisi, termasuk Kepala Rutan Komisaris IS. (K9)Mereka dibebastugaskan untuk kepentingan penyelidikan. Melalui pengacaranya, Adnan Buyung Nasution, hari Rabu, akhirnya Gayus mengakui keluar dari rutan untuk berobat, yang sebelumnya dia bantah.
            P4(K10)Hebatnya, keluarnya Gayus dari tahanan tidak mendapat izin dari ketua majelis hakim yang sedang menyidangkan perkara. (K11)Penasihat hukumnya pun mengaku tidak mengetahui perilaku Gayus. (K12)Kepercayaan diri Gayus yang luar biasa paling tidak menunjukkan betapa kuatnya jaringan Gayus di jajaran penegak hokum atau ada kekuatan lain yang mendukungnya. (K13)Kemampuan Gayus meloloskan diri dari jerat korupsi atau pencucian uang di Pengadilan Tangerang dengan kekuatan uang yang dimilikinya mengonfirmasi betapa kuatnya jaringan tersebut.
            P5(K14)Kita prihatin sekaligus gusar dengan masih adanya praktik itu. (K15)Kita telah gagal menjadi bangsa pembelajar. (K16)Kita teringat pada tahun 1996, terpidana kasus korupsi Rp 1,3 triliun Eddy Transil juga keluar dari Lembaga Pemasyarakatan Cipinang dan melarikan diri ke luar negeri. (K17)Lalu apa bedanya era Orde Baru dengan sekarang, ketika uang masih bias membeli fasilitas di penjara, membeli pasal, membeli keadilan. (K18)Inilah awal dari kehancuran dengan hokum.
            P6(K19)Atas dasar itu, kita menyambut baik langkah Polri menyelidiki skandal Gayus dengan membebastugaskan sejumlah anggota Polri yang diduga bertanggung jawab. (K20)Namun, kita berharap penyelidikan kasus ini tidak hanya akan mengorbankan petugas di tingkat bawah, seperti dalam kasus Eddy Tansil tahun 1996 yang mengorbankan Kepala LP Cipinang dan sipir penjara pada waktu itu.
            P7(K21)Kita memandang ini adalah momentum sekaligus ujian bagi Kapolri Jenderal Timur Pradopo merealisasikan janjinya membersihkan polisi sekaligus memulihkan kepercayaan public kepada Polisi. (K22)Agar kredibilitas penyelidikan bertambah, kita mau mengusulkan agar ada unsure di luar kepolisian dilibatkan dalam penyelidikan itu. (K23)Usul itu kita sampaikan justru karena tertangkap adanya keraguan public apakah polisi mau membongkar boroknya sendiri.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar